Bakso Awanglong Samarinda , 13 Mei 2009 11.00 Wita
Matahari bersinar sangat terik serasa membakar kulit dan debu berterbangan di belakang truk yang melintas di depan warung bakso. Sejumlah kipas angin berputar cepat berusaha memerangi panasnya suhu di dalam warung, tidak sedikit pengunjung yang menggunakan koran sebagai kipas penyejuk. Bukan merupakan waktu yang tepat untuk makan bakso, yang mengepulkan uap panas kuahnya. Tapi itulah pilihan kami untuk menjadi makan siang sebelum berangkat ke Tenggarong.
Setelah mengurus beberapa hal di kampusnya, adikku mengajak makan siang. “Bakso Awanglong” kataku. The best Bakso I ever had. Selama tinggal di Malang aku tidak pernah menemukan rasa bakso yang lebih enak daripada bakso ini. Jadi jajanku pertama kali setelah balik ke Kaltim adalah bakso Awanglong yang terletak di simpang empat Air Hitam Samarinda.
Puas makan bakso mengurangi penat yang terasa setelah melalui perjalanan yang panjang dari Anggana ke Unmul. Awalnya perjalanan kami berjalan mulus hingga kami sampai di daerah Gunung Manggah Sambutan yang jalannya rusak berlubang dan berkubang lumpur. Lalu kami bertemu kemacetan di Pasar Sungai Dama hingga jalan Jelawat di mana banyak orang yang berjualan di pinggir jalan. Tidak hanya itu, Kami harus berjalan memutar lewat jalan Sentosa di karenakan jalan Remaja tergenang banjir. Dan jangan lupa, hampir semua jalan yang kami lalui memiliki lubang di sana sini dari ukuran kecil hingga besar.
Rumah makan bakso Awanglong menjadi tempat kami makan siang, beristirahat dari penat. Kemudian kami mempersiapkan diri untuk perjalanan selanjutnya ke Tenggarong. Masih banyak hal yang akan kami temui nantinya.
Bersambung Part 3…
Episode kemarin diawali dengan adegan Pak Taka yang meratap sendiri di kantornya setelah jam kerja. Kesedihannya timbul karena ia akhirnya tahu siapa pacar Sasha, yang tak lain dan tak bukan adalah Gusti. “Sasha, kenapa kamu meninggalkan aku sendiri?” ratap Pak Taka. Lalu terdengar suara sayuti “Pak Taka nggak sendiri, masih ada saya!” sahutnya yang saat itu berada di depan kantor Pak Taka. Kemudian Pak Taka keluar kantor dan menangis di pundak Sayuti.